29
Hikmah di balik Bencana Jogja
Posted in RenunganBismillahirrahmanirrahim……
Akhir-akhir ini saya jadi sering mengatakan Astaghfirullah menanggapi banyaknya ujian yang melanda bangsa Indonesia. Kenapa saya hanya bisa berujar Istighfar ?? Apakah karena diri saya ini lemah? atau karena saya tidak mampu berbuat apa-apa? Jawaban yang jelas adalah tidak. Saya hanya bisa mengatakan Istighfar karena yang kita alami saat ini adalah sebuah bentuk ujian yang memang langsung diberikan oleh Yang Maha Pemberi. So, saat ini yang bisa kita lakukan sebagai bentuk reaksi atas apa yang kita alami saat ini adalah….Kita harus bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi saat ini. Kalau saya mengambil kata-kata Aa’ Gym dalam ceramahnya hari Ahad kemarin, “jangan sampai kita melewatkan momen yang berharga ini, karena tersimpan begitu banyak hikmah dari setiap peristiwa yang kita jalani”.
Saat hari Sabtu pagi saya mendengar wilayah Jogja dan sekitarnya dilanda musibah Gempa Bumi, saya kembali hanya mengadu kepada Allah. Kalau dalam bahasa Jawa dikenal istilah “ndilalah”. Nah, saya akan coba mengasosiasikan peristiwa di Jogja kemarin itu dengan istilah tersebut. Ketika begitu banyak perhatian tertuju kepada gunung Merapi yang memang menunjukkan tanda-tanda akan meletus, Ternyata Allah memberikan sebuah peristiwa yang mungkin sama sekali tidak kita dan semua penduduk Indonesia duga. Di sebuah pagi yang tenang dan saat penduduk daerah Bantul dan Klaten sedang bergeliat memulai hari, Peristiwa itu pun terjadi. Serentetan gempa bumi berkekuatan sekitar 5,9 skala richter terjadi di daerah Jogja dan sekitarnya. Mereka yang sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal itu pun tanpa ada persiapan sama sekali mengalaminya. Sampai hari ini setidaknya lebih dari 4500 orang telah menjadi korban dari peristiwa tersebut. Sungguh sebuah nominal yang tidak bisa kita bilang sedikit.
Hm…kalau kita coba merangkai beberapa peristiwa tersebut menjadi rangkaian peristiwa, bulan Mei ini menjadi “bulannya Jogja”. Kalau mengambil istilah MTV, bulan Mei itu “Jogja Banget”. Bagaimana tidak, dari mulai berita Gunung Merapi yang mau meletus, kemudian berbagai macam berita mengenai Mbah Marijan, salah satu tokoh yang begitu terkenal akhir-akhir ini. berita lain yang juga menghiasi berbagai media kita adalah mengenai pengungsi dan berbagai macam permasalahan yang menyertainya. Tidak berapa lama, lalu kita mendengar lagi kabar bahwa Jogja dilanda gempa bumi yang memakan nyawa lebih dari 4500 orang. Ya Allah…kalau memang itu caraMu untuk menyayangi Saudara-saudaraku di Jogja, kuatkanlah mereka dalam menghadapinya.
Memang ada beberapa penyebab yang disampaikan oleh beberapa orang. Karena saya bergama Islam, jadi saya mencoba untuk melihatnya dari sudut pandang Islam. Di daerah Jogja dan sekitarnya tempat bencana terjadi, banyak terdapat orang Kafir (bukan Islam-red). Kalaupun beragama Islam, banyak pula yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Lebih banyak dari mereka yang “kejawen” dan lebih percaya kepada kepercayaan leluhur. Mereka dengan taatnya melakukan persembahan ke Laut selatan yang mereka percaya dihuni oleh “Nyi Roro Kidul”. Bahkan beberapa dari mereka ketika ditanya apakah mereka menjalankan sholat fardhu, mereka menjawab “Kulo ora nglampahi” atau saya tidak menjalankannya. Suatu jawaban yang sangat-sangat tidak diharapkan keluar dari mulut seorang yang mengaku dirinya muslim. Ya mungkin itu salah satu penyebab mengapa Allah memberikan sebuah “pengingatan” bagi warga Jogja atas apa yang mereka lakukan.
Bagi saudara-saudaraku yang ada di Jogja dan menjadi korban bencana alam tersebut, saya hanya dapat memberikan sebuah perhatian melalui tulisan saya ini, bahwasanya setiap apa yang terjadi pada kehidupan ini adalah sebuah cara dari Allah untuk menyampaikan hikmahNya. Kalau mengambil istilah dari Aa’Gym (lagi…), kita hidup di dunia hanyalah menjadi tukang parkir. Tukang Parkir tidak pernah sombong punya mobil banyak dan bagus serta berganti-ganti terus. Dia juga tidak pernah sedih dan kecewa di saat mobil tersebut hilang satu per satu. Tahukah anda kenapa mereka bisa berlaku seperti itu? Jawabannya sangat mudah untuk kita ketahui, Mereka hanyalah dititipi mobil tersebut. Sama seperti kita semua manusia yang hidup di dunia, Semua kita hanyalah tukang parkir-tukang parkir yang dititipi harta dan nyawa untuk hidup di dunia ini. Jadi, saat kita ingin menyombongkan diri kita atas segala apa yang kita punya, ingat kembali bahwa semua hanyalah titipan dari Allah. Ataupun saat kita merasa sedih dan kecewa karena harta atau sanak keluarga kita hilang dan meninggalkan kita, kembali harus kita ingat bahwa mereka semua adalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh yang memilikinya.
Mungkin apa yang saya tulis saat ini hanyalah menjadi sebuah hal yang sia-sia belaka apabila saya dan semua orang yang membaca tulisan ini tidak dapat mengambil manfaat dan hikmah darinya. Semua ini hanya akan berharga apabila kita semua dapat menjadikannya sebagai sebuah pijakan menuju masa depan yang lebih baik.
-
nyeleneh Said,
gw setuju banget, lindu ini semacam peringatan bwat meninggalkan kejawen yg gak guna dan kembali kepada jalan yg benar…..


