19
Pergilah Adinda…(Part One)
Posted in My MasterpieceTubuhku sekarang telah berada di ruangan yang sangat besar ini. Mengalirkan kembali ingatanku saat aku pertama kali hadir di ruangan ini sebagai mahasiswa baru. Aku memang jarang kemari karena kampus tempatku belajar sehari-hari tidak terdapat di komplek kampus yang ini. Kampusku terdapat di tengah kota, berbeda dengan di sini, yang terletak di wilayah pinggiran kota yang masih cukup segar.
“Van”
Suara temanku memecahkan lamunanku saat masih menjadi mahasiswa baru. Hampir saja aku terjatuh dari bangku yang kududuki.
“Aduh, kamu mengagetkan saja. Kalau aku jantungan gimana?”
“Ah, masa calon dokter cuma dikagetin aja udah kena serangan jantung.” temanku masih saja tak mau disalahkan.
Syarif nama temanku ini. Dari logatnya yang masih kental nuansa Melayu, orang dengan mudah dapat mengetahui kalau dia berasal dari daerah Sumatera.
“Aku orang Padang.” begitu yang dikatakannya ketika pertama kali kami berkenalan di ruangan ini. Dulu, saat masa orientasi.
Kami pun tertawa bersama saat aku menceritakan apa yang ada dalam lamunanku tadi. Kemudian, kami baru sadar kalau waktu telah menunjukkan pukul delapan kurang dua puluh.
“Van, kita harus bersiap-siap. Dua puluh menit lagi acara akan dimulai.”
“Insya Allah persiapan kita sudah cukup, tinggal tunggu mulai saja.”
Kemudian aku memeriksa barang-barang yang kami bawa sebagai persiapan acara ini. Brosur, leaflet, dan souvenir telah tertata rapi di meja. Laptop yang ku bawa pun telah menyala.
Syarif berjalan menuju pintu masuk. Panitia bersiap-siap mengamankan arus ribuan pelajar yang dengan semangat 45 menuju ke sini. Aku tetap di stand fakultasku bersama beberapa teman wanita yang sedang merapikan beberapa bagian dari stand. Tak berapa lama Syarif kembali dan melaporkan kondisi yang dia lihat.
“Di luar ramai sekali. Aku kira-kira ada sekitar seribu orang lebih.” logat melayunya masih sangat kental walaupun hampir 2 tahun ia sudah tinggal di Jakarta.
Sejurus kemudian pintu-pintu pun dibuka. Terlihat aliran manusia yang bagaikan air bah memasuki ruangan tempatku berada. Kami pun segera menyambut kedatangan mereka. Kebetulan letak stand kami agak jauh dari pintu masuk, jadi para pelajar itu tidak bertumpuk dan menghalangi lalu lalang para pengunjung yang lain.
Para pelajar yang datang ke stand kami menanyakan berbagai macam hal. Mulai dari jalur masuk, pelajaran yang ada, hingga kehidupan yang ada di fakultas tempatku berada. Tetapi, dari semua pertanyaan yang mereka lontarkan, paling banyak yang menanyakan tentang admission fee atau kadang disebut juga uang pangkal.
Memang, kebijakan yang dikeluarkan birokrasi kampusku ini sangat memberatkan pihak mahasiswa baru. Aku pun dulu saat baru masuk kuliah merasakan hal yang serupa. Kenyataannya, sejak pertama kali diberlakukan saat aku masuk kuliah hingga saat ini, tidak terlihat jelas manfaat dan keuntungan buat mahasiswa.
“Kak, kalo masuk FK tuh bayar berapa sich ??” tanya seorang pelajar.
“Sebenarnya ada dua jenis biaya yang ada di Universitas ini. Yang pertama adalah admission fee dan kedua adalah biaya pendidikan per semester. Untuk FK, admission fee atau uang pangkal yang wajib dibayar adalah 25 juta. Sedangkan untuk biaya per semester sebesar 1,5 juta. Namun, kalian jangan takut dengan biaya tersebut karena terdapat keringanan untuk yang kurang mampu.” penjelasan panjang lebarku akhirnya selesai juga.
Hilir mudik para pelajar SMA di depan stand FK terus terjadi. Tanpa terasa waktu di jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit. Aku yang sudah agak lelah akhirnya menyerahkan tugas untuk melayani pertanyaan pengunjung stand kepada Syarif. Selanjutnya aku hanya duduk sambil memberikan brosur kepada pelajar yang lewat.
“Kak Ivan…”
Sebuah suara wanita yang agaknya aku kenal memanggil namaku. Mataku mencari-cari ke penjuru ruangan mencari sumber suara tersebut. Tak lama kemudian datang di hadapanku sesosok wanita cantik berambut hitam tergerai indah. (to be continued…)
-
aribowo Said,
jadi penasaran…
siapa seeh wanita cantiknya..
gak sabar deh nunggu lanjutan nya -
le_ni Said,
dik.. lanjutin dongg… kayaknya seru..
bikin penasaran aja nih..

-
bebex Said,
wedeeeeeeeh…
gimana kalo si cewe namanya bebex ajha
hehehe!!
pasti lebih seru ujung2nya…lanjutkan perjuanganmu dedekyuuuu :))
-
sukma mahendra Said,
I Guest her name is Adinda, right? {consider to the title, hehehe…}
-
Muhammad Ilman Akbar Said,
Hmm.. Latarnya kok FK ya? Nggak Fasilkom aja?
Btw, lanjutin sampe abis dulu dik! Ntar ane nilai bagus ato nggak-nya.. Hehehehe =D
-
Franova Said,
Bagus dik….
teruskan kerja kerasmu, nanti kalo ceritanya udah lengkap di-publish hardcopy aja. mudah-mudahan laku keras..hehehe…
btw tetap semangat.. -
Sidicx The 10 Said,
@ ariwibowo : Hari Sabtu jam 14.00 WIB akan di posting kelanjutan dari cerpen ini.
Wah, penasaran ya…berarti seru ya..hehe…
-
Sidicx The 10 Said,
@ le_ni : sengaja dibikin berseri soale kalo dibikin langsung kebanyakan dan takutnya malah males bacanya….
-
Sidicx The 10 Said,
@ Bebex : Bex, lo jangan ngerusak cerita gw yang udah bagus….
Kalo diganti nanti judulnya jadi
“Pergilah Bebex (untuk selamanya)” hehe….. -
Sidicx The 10 Said,
@ Sukma : Kok tahu, sapa tau tuh cewe namanya Bejo….gimana ??
ya udah deh left aja….(kan ditanya right??)
-
Sidicx The 10 Said,
@ Ilman : itu yang namanya Strategi pasar. Ntar deh kalo udah dilanjutin pasti tau kenapa begitu….
Lanjut….
-
Sidicx The 10 Said,
@ Smel alias Franova : Komentar lo udah kayak om-om aja…Makasih udah disemangatin….sedang dalam proses pengiriman menuju ke kompetisi cerpen nasional….
-
w@hyu Said,
Masuk FK 25 juta?! uh… aku udah gak punya bukit lagi yg bisa dijual buat masuk FK
untung dulu kulnya dpt yg gratisan
btw perasaan aku udah pernah mampir dan baca ini tapi koq commentku gak ada ya?! aku lupa kali ya, jadi telat commentnya. Tapi… better late than never kan dik?!

-
Sidicx The 10 Said,
Kangeeeen….
postingan yang banyak dikomentarin..


