Fantasista The 10

The Blue, Black, and White Of My Life

Jul
27

Hatiku bimbang tak menentu. Sekali lagi aku dilanda kebingungan yang seakan tiada bertepi. Begitu banyak pertanyaan yang berkelebat di pikiranku. Sama banyaknya dengan pertimbangan dan konsekuensi yang harus aku pertanggungjawabkan. Aku bertanggung jawab kepada Allah atas segala perbuatan yang aku lakukan. Aku pun khawatir kalau teman-temanku di lembaga dakwah tahu kalau aku sedang berdua dengan seorang wanita yang dulunya adalah pacarku. Namun, lebih dari semuanya, aku bingung harus menjawab apa saat ditanya oleh Allah nanti di Padang Mahsyar tentang kejadian ini.

Lama kami berdua berada dalam keheningan. Aku berpikir dan dia menunggu. Hebat benar dia bisa tetap sayang padaku selama 5 tahun dan tidak pacaran dengan orang lain. Padahal untuk ukuran seorang siswa SMA, Dinda jelaslah di atas rata-rata. Wajah cantik, rambut hitam tergerai bak bintang iklan shampoo, tubuh proporsional yang ditambah juga dengan otak yang cerdas. Entah kurang apa lagi yang dia punyai. Wajar apabila banyak pria yang menginginkan untuk pacaran dengannya. Tidak hanya satu atau dua saja, kalau dihitung sudah lebih dari dua puluh orang pria yang “nembak” Dinda.

Sekarang aku bertambah bingung. Aku yakin keputusanku kali ini akan berpengaruh besar dalam kelanjutan hidupku nantinya. Pilih Dinda atau pilih yang satunya. Batinku merajuk. Ya Allah tolonglah hamba-Mu ini.

“Kak Ivan, gimana jawabannya? Jangan biarkan Dinda menunggu lebih lama lagi.” suara itu terdengar merintih.

Sekali lagi dengan mengucap basmalah dalam hati, aku bulatkan tekad bahwa aku harus mengambil jalan ini, jalan yang kuyakini kebenaran ada padanya.

“Kakak nggak bisa, Din. Maafkan Kakak untuk yang kesekian kali. Untuk waktumu yang telah lama terbuang untuk menungguku. Untuk semua air mata yang tertumpah ke bumi. Maafkan aku, Dinda.”

Seketika juga kulihat raut muka Dinda berubah. Tak ada lagi suara indah yang keluar dari lisannya. Hanya isakan tangis yang tersisa. Aku yakin dia sangatkecewa kepadaku. Tetapi mau bagaimana lagi. Aku telah memutuskan hal ini dan aku tidak dapat mencabutnya. Karena Allah. Ya, aku yakin karena Allah.

“Tapi kenapa Kak? Kakak kan tahu kalo Dinda sayang banget sama kakak. Kakak juga tahu kalo selama 5 tahun ini Dinda udah menunggu supaya bisa balikan lagi sama kakak. Kenapa Kak? Kakak masih sayang kan sama Dinda?” pertanyaan Dinda keluar begitu saja seperti juga air matanya yang terus saja menetes.

“Memang benar kakak masih sayang sama kamu, tapi kecintaan kakak sebatas cinta dan kasih sayang saudara sesama muslim karena Allah. Kamu mau tahu alasannya? Kita ga bisa pacaran kayak dulu lagi karena dalam ajaran Islam, dalam ajaran agama yang kakak dan kamu anut, tidak ada yang namanya pacaran. Hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan muhrim atau ga ada hubungan keluarga dalam Islam adalah dosa. Kakak ga mau kita berdua akhirnya harus menanggung dosa akibat pacaran yang kita lakukan.”

“Tapi, kak…tapi…” perkataan Dinda terhenti.

“Sejak kakak masuk SMA, kakak mulai bersentuhan dengan nilai-nilai Islam. Mulai dari cara pergaulan yang sesuai dengan ajaran Islam hingga akhirnya kakak bergabung dengan Rohis SMA kakak dulu. Akhirnya kan kakak ga pernah menghubungi kamu lagi ya untuk mencegah hubungan kita bertambah dekat. Kakak sadar apa yang telah kita lakukan dengan berpacaran adalah sebuah kesalahan dan bisa mengakibatkan dosa.”

“Tapi kita kan saling menyayangi dengan tulus kak, kenapa ga boleh?”

“Adikku yang baik, mungkin kamu sekarang belum bisa menerima kenapa yang kita lakukan itu ga boleh dalam Islam. Coba deh kamu lebih mendalami ajaran Islam. Insya Allah kamu akan merasakan nikmatnya hidup dalam Islam.” kataku dengan bijaksana.

Waktu terasa begitu lambat bergulir. Dinda terdiam. Isakannya makin melemah. Mungkin ia sudah lelah menangis. Aku pun tetap bersanding dalam kesunyian. Aku telah siap menerima apa pun reaksi dari Dinda kepadaku. Keyakinan ini terasa begitu kuat karena aku yakin jalan yang kupilih ini adalah benar.

“Ya udah, Kak. Semoga kakak bahagia dengan kehidupan kakak. Dinda mau pulang, agak ga enak badan.”

Kata-kata Dinda semakin membuatku merasa bersalah. Memang aku yakin keputusan yang aku ambil benar, tetapi hal ini sangat berat bagi Dinda. Benar kata seorang bijaksana, kebenaran haruslah dinyatakan walaupun pahit.

“Hati-hati ya, Din. Sekali lagi kakak minta maaf atas semua kesalahan yang kakak perbuat ke kamu. Semoga Allah mempertemukan pasangan yang terbaik untuk kita.”

“Amin. Dinda pulang dulu Kak, Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”

Amin. Itulah kata-kata terakhir yang dikatakan oleh Dinda. Saat itu pulalah saat terakhir kali aku dan Dinda bertemu. Setelah itu aku tidak pernah mendengar kabar mengenai dirinya.

Ya Allah, jadikanlah keputusan yang telah aku ambil ini menjadi keputusan yang terbaik pada aku dan Dinda. Berikanlah hidayah kepada Dinda untuk bisa merasakan kenikmatan berislam secara kaffah. Amin. (to be continued, belom abis lho..!!)

  1. bebex Said,

    islam banget dicx…
    ada yang kurang menurut gue…
    humm,,kayanya terlalu tabu ga seh? agak sedikit ga realita gitu? coba loe bikin yang agak sedikit nyata de,,biar idup ajha critanya.. :P
    masukaaaaaaaaaaaaaaaaaan …

  2. Sidicx The 10 Said,

    Mang napa???

    Kenyataannya emang ini tulisan gw buat ya untuk menanggapi kasus “balikan” sama mantan….

    Nyatanya emang ada yang kayak gini kok…mungkin karena ngeliatnya secara umum ga pernah keliatan di permukaan.

    Cinta….ah…Cinta…

    Coba baca Ayat-Ayat Cinta karangan Kang Abik alias Habiburrahman El-Shirazy…..

    Cinta itu ya gitu….penuh pro dan kontra

  3. aribowo Said,

    ceritanya bakal trilogi ato bakal nambah lagi?

  4. Spedaman Said,

    hihihi bebex mah ga ngerti yg kyk gini…
    btw mantannya Sidicx keren bgt yak?!
    wuiiih:p

  5. phiolete Said,

    waw,,produktif banget dik!!
    Lanjut lah,,,

  6. w@hyu Said,

    Kasihan Dinda ya Dik… udah nunggu bertahun2 ternyata dpt jawaban spt itu…
    Tapi yg namanya kebenaran emang harus diungkapin sih, apa pun konsekuensinya. cuman… alangkah lebih baik kalo nyampaiinnya nyari langkah yg paling bijaksana, kalo bisa sih gak perlu sampai menyinggung perasaan orang lain. Dalam hal ini mungkin Dinda blm begitu faham apa dan gmn sebenarnya pacaran dlm Islam jadinya dia kurang bisa nerima statement Ivan. Seharusnya itu bisa jadi ladang amal buat Ivan dgn ngebimbing Dinda ke arah pemahaman yg lebih baik. Tentunya Mas Ivan-nya ini harus pintar2 memanage HATI, soalnya berat lho kalo terus deket2an sama org yg pernah menempati salah satu bilik di hati kita hehehe… eh, koq jadi serius gini commentnya :)

    anyway, ceritanya simpel tapi sarat makna. salut Dik..!!

  7. Sidicx The 10 Said,

    To Mas Ariwibowo….

    Insya Allah hari ini, Sabtu akan dikeluarkan seri terakhir dari cerpen yang kata orang kok kayak cerbung ya…

    Ya seperti prolog….apalah gitu namanya saya juga bingung….

  8. Sidicx The 10 Said,

    To Spedaman….

    Ga boleh gitu atuh…kalo ga tahu yang harus dikasih tau…ya salah satu tujuan kenapa akhirnya cerpen ini kayak gini ya itu…supaya orang tuh bisa melihat dari sudut pandang lain….bahwa masih ada orang-orang “aneh” macam si Ivan ini…

    Kalo mantan saya keren…ya begitulah… Apa seeh….ga jelas…:P

  9. Sidicx The 10 Said,

    To Phiol….

    Makasih…Tarik mang….!!!

    To Mas W4hyu….

    Kalaupun si Dinda sakit hati itu udah jelas pastinya…tapi kan itu dari sudut pandangnya si Dinda….Masalahnya pilihan hanya ada 2, nerima atau tolak.

    Kalau diterima dia senang dan berbunga-bunga, sedangkan kalo ditolak dia sakit hati dan sedih.

    Ga ada pilihan diantara….

    Maunya sih justru yang menangani urusan si Dinda bukan saya karena jelas ada kekhawatiran dalam hati kalau nanti malah akan “balikan” lagi. Gagal donk tujuannya…..

Add A Comment

Sidicx The 10