26
Kembali lagi di sini bareng gw…
Sekarang gw pengen ngasih liat hasil dari Flash Fiction gw yang inspirasinya gw ambil dari FF gw yang lain. Ya semacam pengembangannya lah….ini nih yang aslinya…
Kereta Telat
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku telah berdiri di sini sejak 30 menit lalu. Orang yang bernasib sama denganku juga banyak. Mereka lelah. Aku pun lelah. Tubuh letih ini sudah tak bisa diajak kompromi. Terbayang di rumah nanti aku berbaring dengan nyaman.
Jarum arlojiku pun terus bergulir. Stasiun UI tak bergeming. Detik demi detiknya terasa bagai penantian berjam-jam bagi kami yang menunggu. Kepenatan hati kami makin lengkap. Kepulan asap dipadu gerutuan penumpang mewarnai malam yang makin kelam.
“Ya Tuhan, kapan semua ini kan berakhir?”
Aku pun mengumpat dalam hati mengapa kereta datang lama sekali. Sesekali kepalaku celingak-celinguk. Melongok ke arah rel yang diam membisu. Mereka tetap diam. Pertanyaan retoris kami tak bisa dijawab.
Sejenak keheningan merasuki jiwaku dan yang lain. Sayup-sayup terdengar suara petugas stasiun.
“Kereta jurusan Jakarta Kota mengalami keterlambatan. Kereta berangkat stasiun Citayem menuju Bogor.”
“Oh My God……Keluarkan aku dari tempat ini…!!!
***
Nah…itu udah lumayan lama gw bikin….Sekarang yang versi barunya, dapet job dari Buletin Boolean BEM Fasilkom buat ngisi rubrik cerpen.
Penantian Tiada Akhir
Malam ini langit tampak begitu gelap. Sang dewi malam tampak malas untuk memunculkan cahayanya. Di antara sinar muram rembulan, samar terlihat lorong yang masih dipenuhi kumpulan manusia. Vian dengan gumamannya sedang bertanya-tanya sendiri. Kacamatanya agak turun akibat kepalanya yang terangguk-angguk karena rasa kantuk yang menyerang. Di sebelah tempatnya berpijak terdapat seorang lelaki setengah baya yang sedang berusaha menyibukkan dirinya dengan membaca koran, sambil sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya. Sepasang kekasih berdiri di depan Vian. Seakan dunia hanya milik berdua, sang pria memeluk sang wanita dari belakang. Vian hanya terdiam tak peduli. Sama halnya dengan orang-orang di sekitarnya.
Di pikiran Vian hanya berkelebat ingatan tentang materi kuliah yang didapatnya pagi tadi. Esok pagi ia harus siap untuk menghadapi ujian mata kuliah yang paling sulit. Menurut rencana awal, sesampainya di rumah ia akan langsung menyelami buku-buku kuliahnya. Itu harapannya.
“Argh…lama banget sih…gimana nih ujian gw? Kapan gw belajar?”
Kata-katanya tak sampai terucap oleh bibir. Ia terlalu lelah untuk meluapkan rasa kesalnya dalam bentuk lisan. Mungkin kalau dituangkan menjadi rangkaian kata, bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas. Namun akal sehat masih menguasai dirinya. Buat apa menghabiskan tenaga hanya untuk marah-marah. Ditambah lagi hal tersebut takkan menghasilkan apa-apa. Lebih baik ditabung untuk belajar, katanya.
Seorang ibu muda mendekati Vian. Di wajahnya tersirat kelelahan yang sangat. Badannya agak membungkuk sambil bersuara pelan
“Nak, jam berapa ya? Kok keretanya belum datang juga…”
Vian mengangkat kepalanya dan dengan sedikit enggan melirik ke arah jam tangan miliknya.
“Jam setengah sembilan, Bu. Saya juga nggak tahu kenapa keretanya nggak datang-datang. Mungkin kesasar sampai Bandung Bu, he..” Jawab Vian mencoba melucu walaupun hanya melahirkan senyuman kecut.
Ibu itu mengucapkan terima kasih sekenanya, kemudian berlalu dari hadapan Vian. Meninggalkan Vian yang masih termenung dalam penantiannya. Ia telah tertahan di sana selama 1 jam lebih. Seharusnya saat ini ia telah sampai di rumahnya dan mulai bergelut dengan bahan-bahan ujian. Entah kenapa di saat-saat seperti ini waktu serasa bergulir dengan begitu lambatnya.
Rel-rel masih tak bergeming. Mereka seakan tak mengerti penderitaan yang dialami Vian dan para penumpang KRL jurusan Bogor-Jakarta Kota lainnya. Sama seperti orang-orang yang mengepulkan asap rokok dari mulutnya di tengah-tengah kerumunan manusia. Mungkin hati-hati mereka sekeras rel, hingga tak mengerti betapa menderita orang yang harus menghirup ribuan racun dari asap rokok mereka.
Detik demi detik terus berlalu. Asa semakin terpuruk dalam relung sukma, bersama harapan untuk mendapatkan nilai bagus pada ujian esok hari. Vian yang sudah bosan mengumpat-umpat dalam hati kelihatan mengucap doa perlahan. Pelan, sepelan waktu bergerak. Hening, sehening malam yang kian kelam. Secercah harapan muncul saat sayup terdengar pengumuman yang keluar dari pengeras suara di sudut dinding Stasiun UI.
“Terima kasih Tuhan, Engkau telah menjawab doaku” bisik Vian lirih.
Para penumpang yang senasib dengan Vian mulai bereaksi. Beberapa terlihat bangkit dari tempat duduknya sambil menggeliat melemaskan otot-ototnya. Yang lain memilih untuk merapat ke rel sambil melongok ke arah darimana kereta datang. Vian pun ikut memasang telinganya baik-baik supaya pengumuman tersebut dapat didengarnya dengan jelas. Kini pengumuman itu terdengar makin jelas.
“Mohon maaf bagi para penumpang KRL jurusan Bogor-Jakarta Kota, kereta mengalami gangguan teknis pada daerah antara stasiun Citayem dan Bogor. Saat ini kereta sedang dalam perjalanan dari stasiun Citayem menuju ke arah Bogor. Harap maklum adanya. Terima Kasih.“
Mendengar kata-kata petugas stasiun itu, Vian kembali tertunduk lesu. Otaknya yang telah penat serasa ingin meledak, seperti juga hatinya. Perlahan pandangannya kabur. Sesaat kemudian ia mulai kehilangan kesadaran. Sebelum tersungkur tak sadarkan diri, ia sempat berbisik kecil
“Oh My God…..keluarkan aku dari tempat ini….”
***
Silahkan liat perbedaan antara kedua FF karya gw itu….Yang pasti terlihat adalah FF yang kedua lebih panjang dari yang pertama. Namun, temanya tetap sama yaitu tentang seseorang yang sedang menunggu datangnya KRL Bogor-Jakarta.
Dengan adanya 2 karya ini, gw cuma mau memperlihatkan bahwa ternyata menciptakan sebuah karya sastra tidak harus dengan menggunakan ide dan tema yang benar-benar dari nol. Apalagi kalo sampai mengklaim bahwa idenya benar-benar orisinil. Yah, sulit sekali memiliki ide yang orisinil sebenar-benarnya. Ternyata bisa lho bikin sebuah karya sastra yang baru dari karya sastra yang telah ada sebelumnya. Tinggal dikembangkan saja ide dan pemikiran kita. Jadi Deh.
Ayo…ayo….kembangkan ide kita…gw juga lagi ada misi buat diri gw sendiri buat bikin cerpen yang bertema Romantic Comedy alias Komedi Cinta gitu, buat ikutan kompetisi yang diadain sama Blogfam dan Gradien Books. Soal ide udah lumayan banyak, kayak baca Kambing Jantan dan Cinta Brontosaurus-nya Raditya Dika, trus juga Sakit 1/2 Jiwa-nya Endang Rukmana. Doakan gw ya berhasil mengarang cerpen itu, trus berhasil masuk ke kumpulan cerpen yang bakal diterbitin….


