16
Pada bulan Ramadhan yang telah kita lalui bersama, gw merasakan banyak cinta yang bertebaran. Entah itu dapat mudah kita rasakan ataupun hanya tersirat saja. Cinta Illahi sudah pasti yang utama. Benar-benar pada bulan Ramadhan semua orang beriman berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan cintanya Allah. Yang Maha tercinta pun tidak kalah banyaknya menyebarkan cinta kepada umatNya. Seperti yang kita tahu, Ramadhan kan bulan penuh berkah, penuh ampunan, penuh kenikmatan. So, Cinta inilah yang paling indah. Umat mencinta Rabbnya dan Rabb pun mencinta umatNya.
Cinta lain yang gw rasakan adalah cinta orang tua dan cinta keluarga. Sebagai satu paket, cinta ini tidak kalah indahnya. Ramadhan menjadikan waktu-waktu terbaik untuk berkumpul bersama keluarga. Banyak orang termasuk gw pastinya merindukan bisa berbuka bersama keluarga. Ada kecintaan yang mendalam dan makin terasa ketika Ramadhan datang di dalam keluarga muslim. Apalagi menjelang akhir Ramadhan. Kecintaan anak pada orang tuanya semakin membuncah, terlihat dengan adanya kebiasaan mudik. Ingin rasanya bertemu dan bersimpuh di kaki orang tua tercinta. Gw sangat merasakan Ramadhan ini, cinta pada Orang tua dan keluarga. Dan semua itu terfasilitasi oleh adanya Ramadhan yang suci.
Ramadhan juga mengajarkan kita akan cinta sesama manusia. Terlihat sekali dengan banyaknya orang yang ingin berbagi pada sesama. Acara-acara seperti buka bersama dan sahur bersama menggambarkan hakikat manusia yang memang ingin mencintai sesamanya. Gw pun merasakan ini. Gw bahagia bisa berbuka bersama teman-teman. Bahagia juga bisa membagikan makanan sahur pada saat Share on Sahur. Bahagia sama berbagi cinta. Ramadhan sekali lagi menjembatani antar elemen umat dengan adanya zakat fitrah di akhir bulan. Zakat seakan menjadi bukti kecintaan manusia kepada Allah dan kepada sesama manusia, dengan mengeluarkan sebagian dari harta kepemilikannya. Cinta pada Illahi dan cinta sesama mengalahkan cinta pada harta yang fana.
Ramadhan juga menjadi lebih penuh saat kita menyadari akan indahnya perbedaan. Mencintai perbedaan, dalam artian tidak menjadikan perbedaan sebagai pembeda antara kita. Contoh nyatanya adalah tanggal jatuhnya Idul Fithri yang berbeda antara sesama muslim. Janganlah kita menjadikan itu sebagai hal besar yang perlu dipermasalahkan. Anggaplah itu sebagai indahnya perbedaan. Dengan kita menyadari bahwa perbedaan itu anugrah, Insya Allah nuansa cinta semakin bermekaran.
Di Ramadhan tahun ini gw juga merasakan cinta. Cinta yang gw harap berbalas. Cinta yang gw harap menjadi cinta gw yang sejati. Cinta yang sedang dalam masa perkembangan. Ibarat anak kecil, cinta gw ini sedang lucu-lucunya. Harapan gw nggak banyak. Semoga cinta ini benar cinta sejati. Di Ramadhan ada cinta. Semoga di Syawal dan di bulan-bulan berikutnya cinta ini semakin berbunga. Dan semoga di Ramadhan yang akan datang, gw dapat dipertemukan dengan cinta gw untuk bisa merasakan manisnya cinta gw ini. Amin.
Kan kurindu selalu dirimu wahai Ramadhan yang penuh cinta.


