Archive for the ‘Artikel’ Category
06
Sejarah merupakan tempat mempelajari hukum-hukum perubahan dalam skala peradaban (Ibnu Khaldun, Ilmuwan Sejarah Muslim)
Banyak orang yang memahami sejarah hanya merupakan catatan-catatan terhadap peristiwa-peristiwa yang telah lalu. Dalam pandangan ini sejarah tak lebih dari sekedar setumpukan data dan monumen yang mengingatkan kita akan berbagai macam kejadian. Sesuai dengan sebuah ungkapan yang ada di atas bahwa Sejarah adalah tempat mempelajari hukum-hukum peradaban dalam skala peradaban.
Tetapi apa pentingnya sejarah bagi kita? Bukankah sejarah hanya milik orang-orang besar? Bukankah sejarah hanya milik masyarakat besar? Bukankah sejarah hanyalah milik peradaban besar? Inilah kepicikan kita. Bukankah pula, yang membuat perubahan-perubahan besar secara pribadi maupun peradaban itu juga manusia? Tentunya tanpa menafikan faktor lain. Bukankah hukum yang mengatur setiap perubahan tidak lebih dari apa yang dinyatakan Allah, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka merubah nasibnya sendiri.”
Sebuah nasyid mengatakan, “Kita adalah generasi yang hilang”. Kita hilang dari peradaban kita sendiri. Kita hilang ketika demikian banyak orang yang tengah menata pertumbuhannya sendiri. Kita tengah menikmati kesendirian kita, ketika banyak orang tengah berkorban demi prinsip-prinsip mereka.
Kita tidak terlalu peka dengan sejarah. Padahal semua kerja dan perbuatan kita memiliki efek terhadap sejarah; sejarah pribadi kita; sejarah keluarga kita; sejarah organisasi kita; sejarah masyarakat kita; atau bahkan sejarah dunia kita. Memahami nilai sejarah berarti memahami makna pertanggungjawaban. Bukankah kelebihan manusia dari makhluk lainnya adalah karena ia mampu bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Dan inilah nilai ketinggian seorang manusia di sisi Allah. Ingatkah kita terhadap kisah Adam dan pertanggungjawabannya ketika ia memilih untuk mendekati pohon terlarang. Peka terhadap sejarah berarti peka terhadap tanggung jawab.
Sebuah ungkapan mengatakan, “Ketika anda bertanggung jawab atas hidup anda, anda akan mulai membuat segalanya terjadi dan bukan sekedar membiarkannya terjadi.” Bertanggung jawab berarti pula membuat sejarah. Jadi daripada menunggu semua hal menjadi baik, menunggu segalanya menjadi berubah, menunggu dunia menjadi lebih baik; Tidakkah kita tertarik untuk “menjadikan” semua hal menjadi lebih baik, “membuat” segalanya menjadi berubah, “Menjadikan” dunia menjadi lebih baik.
==============
Tulisan ini diilhami dari sebuah artikel di Buletin Robbaniyyin yang diterbitkan oleh Rohis SMA 68 tahun 2001. Yah, memang kadang orang menganggap sejarah itu tidak penting. Ini merupakan sebuah bukti kalau sejarah itu penting.
==============
Ketika manusia belajar sejarah, maka secara tak langsung dia telah mempelajari kesalahan-kesalahan manusia terdahulu. Apabila sejarah kehidupannya buruk, maka otomatis kita tidak ingin untuk mengulanginya lagi. Sedangkan apabila sejarah tersebut baik, pastilah kita ingin agar kita menjadi bagian dari sejarah yang baik itu.
Kalau kita tilik dan perhatikan lagi, kejadian yang terjadi pada masa kini adalah sebuah bentuk pengulangan dari kejadian dan peristiwa pada masa lalu. Mungkin yang berubah hanyalah proses kejadiannya, itupun hanya sedikit dan kebanyakan tidak mengubah secara signifikan. Mengapa kejadian-kejadian tersebut dapat berulang lagi di masa sekarang? jawabannya adalah karena manusia mempelajari sejarah.
Akan tetapi, proses manusia dalam menanggapi sejarah tersebut berbeda dari satu pribadi dengan pribadi yang lain. Ada orang yang ketika dia mengetahui adanya sejarah buruk dari sebuah lembar kehidupan, dia tidak mampu memperbaikinya dan kembali mengulanginya. Namun, pastilah ada manusia yang berhasil mengambil hikmah dan pelajaran sehingga dapat memperbaiki sejarah tersebut.
Jadi, inti dari tulisan ini adalah pentingnya kita untuk mempelajari sejarah kehidupan serta bagaimana mengubah pengetahuan sejarah kita menjadi sebuah bentuk perbaikan pada kehidupan kita. Hidup Sejarah….!!!
My Favourite Quote : “Buatlah sejarah(yang baik) !! Jangan sampai ditinggal dan dilupakan oleh sejarah.”


