Archive for the ‘My Masterpiece’ Category
10
Kali ini gw nggak posting banyak-banyak…ntar deh gw bikin di rumah. Udah lama kan gw nggak mosting puisi, cerpen atau artikel buatan gw…so hari ini gw pengen posting puisi aja ya..
Puisi I
dia yang merenggut sekerat bahagia dari genggamanku
dia yang menukar tawaku dengan sekeranjang kelam mimpi
dia pula yang akhirnya menambah duka dalam hati yang telah terluka
lukaku ini tak dapat terkikis oleh bergulirnya waktu
ataupun ketika kau datang membawa selaksa senyum beserta asa
yang kuingin hanyalah sebaris kata maaf tulus ikhlas dari sukma
serta tawa yang dapat menghadirkan kembali gempita di hari yang merana
aku tak tahu apakah kau tahu apa yang aku derita selama ini
dirimu memang sejenis manusia yang tak pernah peduli pada perasaan sesama
hanya mementingkan pemuas nafsu pribadi semata
padahal orang lain berjuang setengah mati demi melihat riang di rautmu
ah…entah apakah yang kutulis hanyalah percuma saja
yang takkan pernah merubah setiap jejak langkah yang kan kau tapakkan nanti
namun ku yakin hal ini kan berharga tuk kelanjutan gulir hariku
kan jadi penawar segores luka yang kau hujam di benakku
Puisi ini ada di postingan lama gw yang ini lho
Karena tadi pas lagi gw ngeliat kok bagus ya kata-katanya…so gw masukin ke dalam postingan tersendiri…Ketika itu gw bikin nih puisi pas lagi bener-bener kesel dibandingin sama seseorang mulu…hehe…Dibandingin itu emang hal yang gw benci…
Puisi II
Cinta yang mengunjungiku
adalah ia yang datang di saat tak tepat
Cinta yang menghampiriku
selalu hamparan asa yang tak bertempat
Ia adalah sebentuk tanda tanya
yang takkan terjawab oleh angan manusia
Puisi yang kedua ini dibuat sama temen baru gw. Namanya Levia Marseila. Ia baru aja lulus dari SMA. Ia mengirim SMS yang berisi puisi itu ke gw…yah karena sederhana namun bagus ya gw masukin aja ke sini…
.:. Ngomongin masalah puisi, sekarang gw lagi agak jarang nih bikin puisi. Pengen sih, tapi entah kenapa ide dan kreasinya blom muncul juga. Sekarang bisa dibilang jiwa puitis dan pujangga gw kalah jauh dibandingin sama 2 orang pujangganya Fusion. Wah, harus mengejar mereka nih.
Selarik kata dapat menyimpan sejuta misteri
14
Banyak lagu yang gw suka bukan dinyanyiin sama penyanyi aslinya. Lagu tersebut telah beberapa kali dinyanyikan oleh penyanyi lain dengan beragam versi. Nah, salah satu versi lagu itu yang gw suka. Kalo menurut gw, lagu yang keren tuh lagu yang walaupun dibawain sama banyak orang dengan bermacam versi tetep enak didenger. Di postingan ini gw pengen ceritain beberapa lagu keren itu yang tetep enak biarpun nggak dibawain sama penyanyi aslinya.
Lagu pertama itu Here There and Everywhere. Gw mulai suka lagu ini karena di TV sering diputer salah satu iklan pelembut pakaian (gw nggak yakin, apakah itu molto atau softener soklin). Di iklan itu, lagu yang aslinya dinyanyiin sama The Beatles ini jadi latar musiknya. Lagu ini bercerita tentang cinta seorang pria pada seorang wanita. Ia menginginkan wanita itu berada dalam segala saat dan waktu dalam hidupnya. Pria ini sangat menyadari akan indahnya berbagi cinta sejati dan saling memahami. Lagu ini telah dibawakan oleh banyak penyanyi selain oleh The Beatles pada tahun 1966. Gw sendiri udah mendengar beberapa versi darinya. Yang gw tahu pernah membawakan Here There and Everywhere selain The Beatles adalah Paul McCartney (tanpa The Beatles), Celine Dion, Clay Aiken, Neri Per Caso, dan John Stevens. Dari semua versi, yang paling gw suka adalah versinya Clay Aiken. Dia nyanyiin pas lagi final 2 besar American Idol season 2. Walaupun ga full dibawainnya, cuma, 2 menit lebih dikit, tapi kualitas suara dan penghayatannya keren abis. Lagu yang sangat direkomendasikan !!! Coba buka link ini untuk melihat riwayat lagu ini dari wiki.
Lagu kedua nggak kalah keren. Over The Rainbow yang aslinya dibawain sama Judy Garland pas tahun 1939. Kalo ga salah lagu ini juga jadi OST film Wizard of Oz. Pas lagu ini pertama kali dibawain sama ibu Judy itu gw belum lahir (). Tetapi emang lagu ini keren abis, tetep keren walaupun usianya sudah nggak muda lagi. Lagu ini bercerita tentang suatu tempat yang indah jauh diatas sana. Dari judulnya pun kita bisa langsung tau kalo letaknya di atas pelangi. Liriknya pun sangat indah dan disajikan layaknya puisi yang indah. Bahkan lagu ini berada pada puncak tangga lagu terbaik abad ini. Sampai saat ini yang gw tau lagu ini selalu dibawain sama penyanyi wanita. Gw pernah dengar lagu ini dibawain sama Judy Garland(original), Katharine Mcphee, Faith Hill, Barbara Streisand, dan Monita Idol 2. Semua membawakan dengan indah sesuai gaya bernyanyi dan genre musiknya. Walaupun begitu, yang menurut gw paling enak adalah versi yang dinyanyiin sama Katharine Mcphee di American Idol season 5. Wanita cantik ini membawakannya 2 kali, yaitu pada babak 3 besar dan final 2 besar. Penampilannya dikomentarin oleh para juri American Idol(Simon Cowell, Randy Jackson, Paula Abdul) sebagai penampilan terbaik di American Idol sejak season 1 sampai season 5. Indah dan sangat direkomendasikan !!! Coba buka link ini untuk melihat riwayat lagu ini dari wiki.
Lagu ketiga tetep keren. A Song For You yang kalo nggak salah pertama kali dibawakan sama Leon Russell. Gw sendiri belom pernah denger lagu ini dibawain sama bung Leon. Pokoknya pas gw denger keren dan enak, langsung dah gw suka. Lagu ini bercerita tentang seorang pria yang sangat mencintai kekasihnya. Ia ingin menyatakan cintanya melalui melodi indah yang dinyanyikannya. Dalam nyanyiannya, ia mengatakan kekasihnya adalah segala-galanya baginya. Arti yang terkandung sangat dalam. Versi yang pernah gw denger adalah yang dinyanyiin sama Michael Buble, Christina Aguilera, dan Elliott Yamin. Ketiga penyanyi itu bawain pake gayanya sendiri-sendiri. Michael Buble dengan gaya classic yang asyik, Christina Aguilera dengan gaya pop yang mellow, dan Elliott Yamin dengan gaya soul campur R&B yang keren abiz. Menurut gw, yang paling enak pas lagi dibawain sama Elliott Yamin di American Idol season 5. Penghayatannya dalem banget, karena lagu ini memang dia sudah menunggu-nunggu untuk menyanyikan lagu ini selama hidupnya. Komentar para Juri American Idol “The best male vocal performance in American Idol, Masterclass, Superb !!”. Vokal indah dari hati. Rekomendasi sangat tinggi !!! Coba buka link ini untuk melihat riwayat lagu ini dari wiki.
Selain 3 lagu itu, ada lagi beberapa lagu yang nggak kalah keren. Nih lagu-lagu itu.
- Have You Ever Really Loved A Woman. Versi original dibawain sama Bryan Adams pas tahun 1995. Yang paling gw suka pas lagi dibawain sama Chris Daughtry di American Idol season 5. Rekomendasi sangat tinggi untuk lagu romantis. Coba buka link ini untuk melihat riwayat lagu ini dari wiki.
- I’ll Stand By You. Aslinya dibawain sama The Pretenders tahun 1994. Gw kesengsem sama lagu ini pas dibawain sama Carrie Underwood di Idol Gives Back pada American Idol season 6. Denger lagu ini bikin gw semangat karena gw tahu bahwa akan selalu yang menguatkan gw. Rekomendasi tinggi untuk versi Carrie Underwood. Coba buka link ini untuk melihat riwayat lagu ini dari wiki.
Hmm…mungkin sangat terlihat kali ya….semua lagu yang gw suka itu dibawain lagi sama para kontestan American Idol. Yap, emang bener. Kelima penyanyi yang gw sebut di atas (Clay Aiken, Carrie Underwood, Katharine Mcphee, Elliott Yamin, Chris Daughtry) emang udah jadi penyanyi favorit gw. Mereka juga kontestan favorit gw selama American Idol udah dilaksanain 6 season. Gw akuin gw emang penggemar berat American Idol. Kenapa? jelas karena penampilan dan kualitas vokal mereka memang sangat hebat. Buktinya setelah mereka lepas dari American Idol karier musik mereka malah semakin meningkat dan menjadikan mereka penyanyi profesional. So, kenapa ga nonton American Idol?
Coba denger deh….pasti lo bakal tau kalo penilaian gw nggak salah !!!
26
Kembali lagi di sini bareng gw…
Sekarang gw pengen ngasih liat hasil dari Flash Fiction gw yang inspirasinya gw ambil dari FF gw yang lain. Ya semacam pengembangannya lah….ini nih yang aslinya…
Kereta Telat
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku telah berdiri di sini sejak 30 menit lalu. Orang yang bernasib sama denganku juga banyak. Mereka lelah. Aku pun lelah. Tubuh letih ini sudah tak bisa diajak kompromi. Terbayang di rumah nanti aku berbaring dengan nyaman.
Jarum arlojiku pun terus bergulir. Stasiun UI tak bergeming. Detik demi detiknya terasa bagai penantian berjam-jam bagi kami yang menunggu. Kepenatan hati kami makin lengkap. Kepulan asap dipadu gerutuan penumpang mewarnai malam yang makin kelam.
“Ya Tuhan, kapan semua ini kan berakhir?”
Aku pun mengumpat dalam hati mengapa kereta datang lama sekali. Sesekali kepalaku celingak-celinguk. Melongok ke arah rel yang diam membisu. Mereka tetap diam. Pertanyaan retoris kami tak bisa dijawab.
Sejenak keheningan merasuki jiwaku dan yang lain. Sayup-sayup terdengar suara petugas stasiun.
“Kereta jurusan Jakarta Kota mengalami keterlambatan. Kereta berangkat stasiun Citayem menuju Bogor.”
“Oh My God……Keluarkan aku dari tempat ini…!!!
***
Nah…itu udah lumayan lama gw bikin….Sekarang yang versi barunya, dapet job dari Buletin Boolean BEM Fasilkom buat ngisi rubrik cerpen.
Penantian Tiada Akhir
Malam ini langit tampak begitu gelap. Sang dewi malam tampak malas untuk memunculkan cahayanya. Di antara sinar muram rembulan, samar terlihat lorong yang masih dipenuhi kumpulan manusia. Vian dengan gumamannya sedang bertanya-tanya sendiri. Kacamatanya agak turun akibat kepalanya yang terangguk-angguk karena rasa kantuk yang menyerang. Di sebelah tempatnya berpijak terdapat seorang lelaki setengah baya yang sedang berusaha menyibukkan dirinya dengan membaca koran, sambil sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya. Sepasang kekasih berdiri di depan Vian. Seakan dunia hanya milik berdua, sang pria memeluk sang wanita dari belakang. Vian hanya terdiam tak peduli. Sama halnya dengan orang-orang di sekitarnya.
Di pikiran Vian hanya berkelebat ingatan tentang materi kuliah yang didapatnya pagi tadi. Esok pagi ia harus siap untuk menghadapi ujian mata kuliah yang paling sulit. Menurut rencana awal, sesampainya di rumah ia akan langsung menyelami buku-buku kuliahnya. Itu harapannya.
“Argh…lama banget sih…gimana nih ujian gw? Kapan gw belajar?”
Kata-katanya tak sampai terucap oleh bibir. Ia terlalu lelah untuk meluapkan rasa kesalnya dalam bentuk lisan. Mungkin kalau dituangkan menjadi rangkaian kata, bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas. Namun akal sehat masih menguasai dirinya. Buat apa menghabiskan tenaga hanya untuk marah-marah. Ditambah lagi hal tersebut takkan menghasilkan apa-apa. Lebih baik ditabung untuk belajar, katanya.
Seorang ibu muda mendekati Vian. Di wajahnya tersirat kelelahan yang sangat. Badannya agak membungkuk sambil bersuara pelan
“Nak, jam berapa ya? Kok keretanya belum datang juga…”
Vian mengangkat kepalanya dan dengan sedikit enggan melirik ke arah jam tangan miliknya.
“Jam setengah sembilan, Bu. Saya juga nggak tahu kenapa keretanya nggak datang-datang. Mungkin kesasar sampai Bandung Bu, he..” Jawab Vian mencoba melucu walaupun hanya melahirkan senyuman kecut.
Ibu itu mengucapkan terima kasih sekenanya, kemudian berlalu dari hadapan Vian. Meninggalkan Vian yang masih termenung dalam penantiannya. Ia telah tertahan di sana selama 1 jam lebih. Seharusnya saat ini ia telah sampai di rumahnya dan mulai bergelut dengan bahan-bahan ujian. Entah kenapa di saat-saat seperti ini waktu serasa bergulir dengan begitu lambatnya.
Rel-rel masih tak bergeming. Mereka seakan tak mengerti penderitaan yang dialami Vian dan para penumpang KRL jurusan Bogor-Jakarta Kota lainnya. Sama seperti orang-orang yang mengepulkan asap rokok dari mulutnya di tengah-tengah kerumunan manusia. Mungkin hati-hati mereka sekeras rel, hingga tak mengerti betapa menderita orang yang harus menghirup ribuan racun dari asap rokok mereka.
Detik demi detik terus berlalu. Asa semakin terpuruk dalam relung sukma, bersama harapan untuk mendapatkan nilai bagus pada ujian esok hari. Vian yang sudah bosan mengumpat-umpat dalam hati kelihatan mengucap doa perlahan. Pelan, sepelan waktu bergerak. Hening, sehening malam yang kian kelam. Secercah harapan muncul saat sayup terdengar pengumuman yang keluar dari pengeras suara di sudut dinding Stasiun UI.
“Terima kasih Tuhan, Engkau telah menjawab doaku” bisik Vian lirih.
Para penumpang yang senasib dengan Vian mulai bereaksi. Beberapa terlihat bangkit dari tempat duduknya sambil menggeliat melemaskan otot-ototnya. Yang lain memilih untuk merapat ke rel sambil melongok ke arah darimana kereta datang. Vian pun ikut memasang telinganya baik-baik supaya pengumuman tersebut dapat didengarnya dengan jelas. Kini pengumuman itu terdengar makin jelas.
“Mohon maaf bagi para penumpang KRL jurusan Bogor-Jakarta Kota, kereta mengalami gangguan teknis pada daerah antara stasiun Citayem dan Bogor. Saat ini kereta sedang dalam perjalanan dari stasiun Citayem menuju ke arah Bogor. Harap maklum adanya. Terima Kasih.“
Mendengar kata-kata petugas stasiun itu, Vian kembali tertunduk lesu. Otaknya yang telah penat serasa ingin meledak, seperti juga hatinya. Perlahan pandangannya kabur. Sesaat kemudian ia mulai kehilangan kesadaran. Sebelum tersungkur tak sadarkan diri, ia sempat berbisik kecil
“Oh My God…..keluarkan aku dari tempat ini….”
***
Silahkan liat perbedaan antara kedua FF karya gw itu….Yang pasti terlihat adalah FF yang kedua lebih panjang dari yang pertama. Namun, temanya tetap sama yaitu tentang seseorang yang sedang menunggu datangnya KRL Bogor-Jakarta.
Dengan adanya 2 karya ini, gw cuma mau memperlihatkan bahwa ternyata menciptakan sebuah karya sastra tidak harus dengan menggunakan ide dan tema yang benar-benar dari nol. Apalagi kalo sampai mengklaim bahwa idenya benar-benar orisinil. Yah, sulit sekali memiliki ide yang orisinil sebenar-benarnya. Ternyata bisa lho bikin sebuah karya sastra yang baru dari karya sastra yang telah ada sebelumnya. Tinggal dikembangkan saja ide dan pemikiran kita. Jadi Deh.
Ayo…ayo….kembangkan ide kita…gw juga lagi ada misi buat diri gw sendiri buat bikin cerpen yang bertema Romantic Comedy alias Komedi Cinta gitu, buat ikutan kompetisi yang diadain sama Blogfam dan Gradien Books. Soal ide udah lumayan banyak, kayak baca Kambing Jantan dan Cinta Brontosaurus-nya Raditya Dika, trus juga Sakit 1/2 Jiwa-nya Endang Rukmana. Doakan gw ya berhasil mengarang cerpen itu, trus berhasil masuk ke kumpulan cerpen yang bakal diterbitin….
20
Nemu Puisi Lama Gw….
Posted in My Masterpiece.:Pas lagi buka-buka file di Flashdisk, gw nemu ada puisi yang udah lama gw tulis. Hm, sepertinya cukup layak buat diposting di Blog:.
Sekali dan sekali lagi…
Aku bukan matahari yang bersedia membakar dirinya untuk menghangatkan bumi ini
Aku bukan angin musim semi yang membelai manja dirimu hingga terlelap
Aku bukan mawar yang merah merekah merangkai indahnya taman hatimu
Aku bukan malam yang menyelimuti langit hingga fajar muncul dengan malu-malu
Aku hanya manusia biasa yang pasti memiliki kekurangan dan kesalahan
Aku hanya sebutir debu kecil tak berarti di tengah terik panas mentari
Aku hanya buih di laut biru yang mudah terhempas gelombang kehidupan
Aku hanya selaksa cahaya dalam pekatnya malam yang kelam
Namun…
Aku yakin bisa menjadi bintang yang menyinari kehidupan dan berikanmu senyuman
Aku yakin bisa jadi lazuardi senja yang mendekap bumi dan berikanmu kedamaian
Aku yakin bisa merangkai indahnya pelangi di cakrawala dan berikanmu pengharapan
Aku yakin bisa jadi embun suci di kala pagi yang berikanmu kesejukan
Akulah aku…
16
Melodi Hari Ini
Posted in My MasterpieceAda puisi gubahan Sidicx yang paling disenengin….abis menggambarkan kekuasaan Illahi sih…
Ketika ku lihat semburat dari ufuk timur
Oh…indahnya hari ini, sayangku
Dan ketika ku pandang awan berarak riang
Ingin ku rangkai mereka membentuk wajahmu
Kicauan burung ramaikan suasana di hati
Alunan melodi indah karya Illahi
Bunga-bunga di taman pun tersenyum padaku
Teriring salam hantarkan kebahagiaan
Namun, Entah mengapa pagi ini tak indah lagi
Apakah yang terjadi pada hariku?
Cakrawala tersamar gelap kabut tanpa pelita
Alamku menggigil gemeretak gemetar hatinya
Mungkin ada keindahan yang akan pergi jauh
Tinggalkan diriku dalam penantian jiwa
Kapankah kau membawa kembali ceria
Dalam hatiku yang sedang dilanda gulana
Gulana tak terperi terasa berat di hati
Sampai hilang rasa dari sekumpulan nyawa
Entah bagaimana ku dapat kembali berdiri
Bangkit berlari mengejar mimpi-mimpi
Bawakan bintang ke atas langitku, sayangku
Hiasi dengan tawa sejukkan sudut sanubari
Biarkan diriku kembali hadirkan rindu
Tuk bersama dirimu sepanjang hari ini
29
Kampusku sangat ramai. Saat ini adalah waktu penyambutan mahasiswa baru yang berhasil lulus ke FK. Di sana-sini banyak terdapat wajah-wajah calon dokter yang masih terlihat ceria. Belum ada raut kesusahan di wajah mereka. Mungkin karena mereka belum merasakan betapa beratnya perjuangan kuliah di kedokteran.
Aku tidak ikut sibuk karena aku bukan panitia penyambutan mahasiswa baru. Sudah bosan. Itu alasan utamaku karena memang tahun lalu aku sudah menjadi panitia. Tahun ini aku ingin merasakan sedikit aroma kebebasan.
Aku pun terus bergerak menuju ruangan kelasku saat ada suara yang terdengar seperti menyebut namaku. Aku mencari-cari darimana suara itu berasal. Rasa penasaran dalam hatiku agak terjawab saat aku menoleh ke belakang.
“Assalamualaikum, Kak Ivan.” terdengar suara yang terasa begitu familiar bagiku.
Di hadapanku berdiri sesosok wanita berjilbab rapi dengan gamis berwarna merah hati. Aku mencoba mereka-reka identitas wanita ini. Namun, tetap aku tidak mampu mengingat mengenai dirinya. Yang terbayang dalam benakku hanya sesosok bidadari bermata jeli yang hadir di hadapanku. Subhanallah. Apakah aku bermimpi?
“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Siapa ya?” tanyaku padanya.
“Kak Ivan ga ingat siapa aku? Alhamdulillah, berarti aku sudah banyak berubah.” jawabannya membuatku bertambah penasaran.
“Maaf ya Ukhti, tapi saya benar-benar ga ingat siapa anda.”
“Aku Dinda, Kak. Adinda Saraswati Putri. Adik kelas kakak waktu SMP yang sempat dekat dengan kakak. Alhamdulillah berkat doa kakak aku diberikan hidayah oleh Allah untuk berhijrah. Sejak terakhir kali kita bertemu pun aku sudah mempelajari ajaran Islam, seperti yang kakak harapkan dariku. Sesuai juga dengan ajaran Islam.”
“Subhanallah, Maha Suci Allah. Dinda, Subhanallah. Kakak benar-benar ga mengenali kamu. Sekarang kamu sudah banyak berubah.” kalimat pujian menyeruak dari ucapku.
“Alhamdulillah. Ini juga karena doa kakak kan. Alhamdulillah juga Dinda akhirnya bisa lulus di kedokteran. Sesuai dengan harapan Dinda.”
Ya Allah, apakah kembalinya Dinda dalam kehidupanku adalah sebuah kebaikan bagiku. Atau Engkau menguji keimananku. Teguhkanlah pendirianku dalam kebenaran-Mu ya Allah.
“Din, sekarang kamu udah tahu kan bagaimana ajaran Islam mengatur hubungan ntara dua orang yang bukan muhrim. Kamu juga sudah mempelajari ajaran Islam. Kakak sarankan kamu untuk bergabung dengan lembaga dakwah di kampus ini. Insya Allah banyak sahabat yang bisa saling mengingatkan dalam usaha menjadi manusia yang lebih baik.”
“Insya Allah, Kak. Dinda akan bergabung dengan teman-teman di lembaga dakwah. Dinda kan juga masih perlu banyak belajar.”
Kata-kata dari Dinda begitu mendamaikan hatiku. Allah telah menghadirkan seorang pejuang Islam baru di kampus ini. Pejuang yang akan menyebarkan nilai-nilai Islam di kampus yang makin gersang ini.
Semoga Allah menjadikan hubungan antara aku dan Dinda sebagai hubungan yang suci. Bukan hubungan seperti dulu, yang menyalahartikan makna cinta yang hakiki dan menggantinya dengan cinta semu.
Ya Allah Yang Maha Menggenggam hati, condongkanlah hatiku kepada din-Mu dan kepada ketaatan pada-Mu.
Temen-temen yang baca, tolong dikomentarin ya….boleh secara keseluruhan maupun bagian endingnya….kalopun nanti harus ada perubahan, boleh asal ke arah yang lebih baik….
27
Pergilah Adinda…(Part Three)
Posted in My MasterpieceHatiku bimbang tak menentu. Sekali lagi aku dilanda kebingungan yang seakan tiada bertepi. Begitu banyak pertanyaan yang berkelebat di pikiranku. Sama banyaknya dengan pertimbangan dan konsekuensi yang harus aku pertanggungjawabkan. Aku bertanggung jawab kepada Allah atas segala perbuatan yang aku lakukan. Aku pun khawatir kalau teman-temanku di lembaga dakwah tahu kalau aku sedang berdua dengan seorang wanita yang dulunya adalah pacarku. Namun, lebih dari semuanya, aku bingung harus menjawab apa saat ditanya oleh Allah nanti di Padang Mahsyar tentang kejadian ini.
Lama kami berdua berada dalam keheningan. Aku berpikir dan dia menunggu. Hebat benar dia bisa tetap sayang padaku selama 5 tahun dan tidak pacaran dengan orang lain. Padahal untuk ukuran seorang siswa SMA, Dinda jelaslah di atas rata-rata. Wajah cantik, rambut hitam tergerai bak bintang iklan shampoo, tubuh proporsional yang ditambah juga dengan otak yang cerdas. Entah kurang apa lagi yang dia punyai. Wajar apabila banyak pria yang menginginkan untuk pacaran dengannya. Tidak hanya satu atau dua saja, kalau dihitung sudah lebih dari dua puluh orang pria yang “nembak” Dinda.
Sekarang aku bertambah bingung. Aku yakin keputusanku kali ini akan berpengaruh besar dalam kelanjutan hidupku nantinya. Pilih Dinda atau pilih yang satunya. Batinku merajuk. Ya Allah tolonglah hamba-Mu ini.
“Kak Ivan, gimana jawabannya? Jangan biarkan Dinda menunggu lebih lama lagi.” suara itu terdengar merintih.
Sekali lagi dengan mengucap basmalah dalam hati, aku bulatkan tekad bahwa aku harus mengambil jalan ini, jalan yang kuyakini kebenaran ada padanya.
“Kakak nggak bisa, Din. Maafkan Kakak untuk yang kesekian kali. Untuk waktumu yang telah lama terbuang untuk menungguku. Untuk semua air mata yang tertumpah ke bumi. Maafkan aku, Dinda.”
Seketika juga kulihat raut muka Dinda berubah. Tak ada lagi suara indah yang keluar dari lisannya. Hanya isakan tangis yang tersisa. Aku yakin dia sangatkecewa kepadaku. Tetapi mau bagaimana lagi. Aku telah memutuskan hal ini dan aku tidak dapat mencabutnya. Karena Allah. Ya, aku yakin karena Allah.
“Tapi kenapa Kak? Kakak kan tahu kalo Dinda sayang banget sama kakak. Kakak juga tahu kalo selama 5 tahun ini Dinda udah menunggu supaya bisa balikan lagi sama kakak. Kenapa Kak? Kakak masih sayang kan sama Dinda?” pertanyaan Dinda keluar begitu saja seperti juga air matanya yang terus saja menetes.
“Memang benar kakak masih sayang sama kamu, tapi kecintaan kakak sebatas cinta dan kasih sayang saudara sesama muslim karena Allah. Kamu mau tahu alasannya? Kita ga bisa pacaran kayak dulu lagi karena dalam ajaran Islam, dalam ajaran agama yang kakak dan kamu anut, tidak ada yang namanya pacaran. Hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan muhrim atau ga ada hubungan keluarga dalam Islam adalah dosa. Kakak ga mau kita berdua akhirnya harus menanggung dosa akibat pacaran yang kita lakukan.”
“Tapi, kak…tapi…” perkataan Dinda terhenti.
“Sejak kakak masuk SMA, kakak mulai bersentuhan dengan nilai-nilai Islam. Mulai dari cara pergaulan yang sesuai dengan ajaran Islam hingga akhirnya kakak bergabung dengan Rohis SMA kakak dulu. Akhirnya kan kakak ga pernah menghubungi kamu lagi ya untuk mencegah hubungan kita bertambah dekat. Kakak sadar apa yang telah kita lakukan dengan berpacaran adalah sebuah kesalahan dan bisa mengakibatkan dosa.”
“Tapi kita kan saling menyayangi dengan tulus kak, kenapa ga boleh?”
“Adikku yang baik, mungkin kamu sekarang belum bisa menerima kenapa yang kita lakukan itu ga boleh dalam Islam. Coba deh kamu lebih mendalami ajaran Islam. Insya Allah kamu akan merasakan nikmatnya hidup dalam Islam.” kataku dengan bijaksana.
Waktu terasa begitu lambat bergulir. Dinda terdiam. Isakannya makin melemah. Mungkin ia sudah lelah menangis. Aku pun tetap bersanding dalam kesunyian. Aku telah siap menerima apa pun reaksi dari Dinda kepadaku. Keyakinan ini terasa begitu kuat karena aku yakin jalan yang kupilih ini adalah benar.
“Ya udah, Kak. Semoga kakak bahagia dengan kehidupan kakak. Dinda mau pulang, agak ga enak badan.”
Kata-kata Dinda semakin membuatku merasa bersalah. Memang aku yakin keputusan yang aku ambil benar, tetapi hal ini sangat berat bagi Dinda. Benar kata seorang bijaksana, kebenaran haruslah dinyatakan walaupun pahit.
“Hati-hati ya, Din. Sekali lagi kakak minta maaf atas semua kesalahan yang kakak perbuat ke kamu. Semoga Allah mempertemukan pasangan yang terbaik untuk kita.”
“Amin. Dinda pulang dulu Kak, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Amin. Itulah kata-kata terakhir yang dikatakan oleh Dinda. Saat itu pulalah saat terakhir kali aku dan Dinda bertemu. Setelah itu aku tidak pernah mendengar kabar mengenai dirinya.
Ya Allah, jadikanlah keputusan yang telah aku ambil ini menjadi keputusan yang terbaik pada aku dan Dinda. Berikanlah hidayah kepada Dinda untuk bisa merasakan kenikmatan berislam secara kaffah. Amin. (to be continued, belom abis lho..!!)
22
Pergilah Adinda…(Part Two)
Posted in My Masterpiece“Adinda…betulkan Adinda Saraswati ??”
Sambil tetap tersenyum manis ia menganggukkan kepalanya tanda kalau jawabanku benar. Nama lengkapnya Adinda Saraswati Putri. Aku mengenalnya ketika aku kelas 3 SMP dan dia kelas 1. Saat itu sedang masa orientasi siswa baru. Aku sebagai pengurus OSIS di sekolah mendapat tugas menjadi panitia masa orientasi siswa. Adinda kebetulan berada di kelas tempat aku bertugas. Kesan pertama akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta antara kami berdua.
“Kak Ivan tidak banyak berubah ya…masih tetap ganteng seperti dulu.”
“Ah, kamu bisa saja.” pujiannya membuat aku tersenyum malu-malu.
“Kamu kesini bareng sama siapa?”
“Aku sendirian kok kak. Tadi emang aku ngajak temenku, tapi merekanya ga mau.”
Dalam hatiku aku bilang kalau nada bicaranya masih tetap lembut dan manja seperti dulu. Dari yang aku lihat memang dia belum banyak berubah.
“Ah, cukuplah sekali saja dulu.” kataku dalam hati.
“Kakak lagi sibuk ga?” pertanyaan Dinda menyadarkan diriku dari lamunan.
“Sekarang sih udah ga terlalu sibuk, emangnya kenapa?”
“Bisa ga kita berdua jalan-jalan sambil ngobrol? Ga jauh-jauh kok, cuma di sekitar sini aja”
Batinku meragu. Aku bingung apakah mengiyakan atau menolak. Setelah berdoa dalam hati seraya mengucap basmalah aku akhirnya mengiyakan.
“Boleh deh, tapi jangan lama-lama ya.”
Kemudian kami pun segera beranjak dari stand FK menuju ke pintu keluar. Saat kami akan keluar, ada seorang teman yang terheran-heran melihat aku berdampingan dengan seorang wanita cantik.
“Van, siapa nih? Pacar elo ya? Kenalin donk!”
“Apaan sih, adik kelas gw kok. Udah ah gw lagi buru-buru nih.”
Tanpa basa-basi aku meninggalkan teman usil yang masih tertawa senang karena bisa membuatku kesal. Sekilas tanpa sengaja aku melihat wajah ceria Dinda saat temanku bilang kalau dia adalah pacarku. Perasaanku makin tidak enak.
“Kak Ivan…” suara itu akhirnya muncul setelah kami mulai berjalan perlahan sambil menikmati hiruk-pikuk di sekitar.
“Apa…” jawabku singkat.
“Terakhir kali kita bisa jalan sambil ngobrol kayak gini kapan ya?”
“Hm…kalo ga salah sih 5 tahun yang lalu.” jawabku kurang yakin.
“Selama itu pernah ga kakak berhubungan dengan cewe selain Dinda?”
“Maksud kamu apa? Kakak ga nyambung nih.”
“Maksud Dinda ya pacaran. Selama 5 tahun kita ga ketemu kakak pernah pacaran ga?” nada suaranya agak meninggi.
“Emangnya kenapa, Din?”
“Ya kan pas dulu kita belum putus. Maksudnya belum ada kata putus gitu. Kakak tahu ga semenjak terakhir kita ketemu itu Dinda belum pernah pacaran sama orang lain. Dinda masih sayang sama Kakak.” kata-kata Dinda agak bergetar.
“Sampai sekarang?”
“Sampai sekarang.” jawab Dinda ditambah anggukan.
Ya Allah, teguhkanlah pendirianku pada kebenaran-Mu. Jangan jadikan peristiwa saat ini untuk membuatku menjadi hamba-Mu yang kembali ke saat-saat jahiliyah seperti dulu.
“Jadi, kamu sekarang maunya gimana, Din?”
“Dinda ga minta macam-macam. Dinda cuma mau kalo kita balik kayak dulu, kita pacaran lagi. Dinda selama 5 tahun ini udah menyimpan rasa sayang ke kakak dan Dinda yakin kakak juga sama kan?”
Deg, tepat seperti yang aku perkirakan. Akhirnya kata-kata pamungkas tersebut keluar juga dari lisan Dinda.
“Aku ingin kita balik kayak dulu.” (to be continued…)
19
Pergilah Adinda…(Part One)
Posted in My MasterpieceTubuhku sekarang telah berada di ruangan yang sangat besar ini. Mengalirkan kembali ingatanku saat aku pertama kali hadir di ruangan ini sebagai mahasiswa baru. Aku memang jarang kemari karena kampus tempatku belajar sehari-hari tidak terdapat di komplek kampus yang ini. Kampusku terdapat di tengah kota, berbeda dengan di sini, yang terletak di wilayah pinggiran kota yang masih cukup segar.
“Van”
Suara temanku memecahkan lamunanku saat masih menjadi mahasiswa baru. Hampir saja aku terjatuh dari bangku yang kududuki.
“Aduh, kamu mengagetkan saja. Kalau aku jantungan gimana?”
“Ah, masa calon dokter cuma dikagetin aja udah kena serangan jantung.” temanku masih saja tak mau disalahkan.
Syarif nama temanku ini. Dari logatnya yang masih kental nuansa Melayu, orang dengan mudah dapat mengetahui kalau dia berasal dari daerah Sumatera.
“Aku orang Padang.” begitu yang dikatakannya ketika pertama kali kami berkenalan di ruangan ini. Dulu, saat masa orientasi.
Kami pun tertawa bersama saat aku menceritakan apa yang ada dalam lamunanku tadi. Kemudian, kami baru sadar kalau waktu telah menunjukkan pukul delapan kurang dua puluh.
“Van, kita harus bersiap-siap. Dua puluh menit lagi acara akan dimulai.”
“Insya Allah persiapan kita sudah cukup, tinggal tunggu mulai saja.”
Kemudian aku memeriksa barang-barang yang kami bawa sebagai persiapan acara ini. Brosur, leaflet, dan souvenir telah tertata rapi di meja. Laptop yang ku bawa pun telah menyala.
Syarif berjalan menuju pintu masuk. Panitia bersiap-siap mengamankan arus ribuan pelajar yang dengan semangat 45 menuju ke sini. Aku tetap di stand fakultasku bersama beberapa teman wanita yang sedang merapikan beberapa bagian dari stand. Tak berapa lama Syarif kembali dan melaporkan kondisi yang dia lihat.
“Di luar ramai sekali. Aku kira-kira ada sekitar seribu orang lebih.” logat melayunya masih sangat kental walaupun hampir 2 tahun ia sudah tinggal di Jakarta.
Sejurus kemudian pintu-pintu pun dibuka. Terlihat aliran manusia yang bagaikan air bah memasuki ruangan tempatku berada. Kami pun segera menyambut kedatangan mereka. Kebetulan letak stand kami agak jauh dari pintu masuk, jadi para pelajar itu tidak bertumpuk dan menghalangi lalu lalang para pengunjung yang lain.
Para pelajar yang datang ke stand kami menanyakan berbagai macam hal. Mulai dari jalur masuk, pelajaran yang ada, hingga kehidupan yang ada di fakultas tempatku berada. Tetapi, dari semua pertanyaan yang mereka lontarkan, paling banyak yang menanyakan tentang admission fee atau kadang disebut juga uang pangkal.
Memang, kebijakan yang dikeluarkan birokrasi kampusku ini sangat memberatkan pihak mahasiswa baru. Aku pun dulu saat baru masuk kuliah merasakan hal yang serupa. Kenyataannya, sejak pertama kali diberlakukan saat aku masuk kuliah hingga saat ini, tidak terlihat jelas manfaat dan keuntungan buat mahasiswa.
“Kak, kalo masuk FK tuh bayar berapa sich ??” tanya seorang pelajar.
“Sebenarnya ada dua jenis biaya yang ada di Universitas ini. Yang pertama adalah admission fee dan kedua adalah biaya pendidikan per semester. Untuk FK, admission fee atau uang pangkal yang wajib dibayar adalah 25 juta. Sedangkan untuk biaya per semester sebesar 1,5 juta. Namun, kalian jangan takut dengan biaya tersebut karena terdapat keringanan untuk yang kurang mampu.” penjelasan panjang lebarku akhirnya selesai juga.
Hilir mudik para pelajar SMA di depan stand FK terus terjadi. Tanpa terasa waktu di jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit. Aku yang sudah agak lelah akhirnya menyerahkan tugas untuk melayani pertanyaan pengunjung stand kepada Syarif. Selanjutnya aku hanya duduk sambil memberikan brosur kepada pelajar yang lewat.
“Kak Ivan…”
Sebuah suara wanita yang agaknya aku kenal memanggil namaku. Mataku mencari-cari ke penjuru ruangan mencari sumber suara tersebut. Tak lama kemudian datang di hadapanku sesosok wanita cantik berambut hitam tergerai indah. (to be continued…)
06
Alessandro Del Piero
Di Jerman (sekarang kan mau tanding final)
atau di rumahnya di Turin, Italia
Mas, tahu ga kalo dari aku mulai ngerti kalo bola itu buat ditendang, aku udah nge-fans sama mas. Apalagi pas mas dulu masih muda dan maen keren banget di Juventus. Wah, pokoknya keren banget deh buat aku.
Mas Del Piero itu dalam hidupku sangat berarti. Alessandro Del Piero telah tertulis dalam hatiku sebagai salah satu figur manusia yang menginspirasikan diriku untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik. Alessandro Del Piero adalah manusia yang menjadi idolaku dalam bermain sepakbola. Tidak ada pesepakbola yang lebih hebat dari pada Mas menurutku. Pokoknya mas itu udah menjadi pahlawanku dalam Sepakbola. The Best World Ever Had, Better than Pele, Better than everyone. You’re my Hero.
Makasih ya mas atas golnya kemarin yang akhirnya mengantarkan Italia untuk sampai ke Final piala dunianya yang ke 6. Terus berjuang mas karena perjuangan belum berakhir sampai Italia bisa juara untuk yang ke 4. Buktikan kalo Mas Del Piero itu belum “habis”, seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang ga suka atas kesuksesan mas. Buktikan kalo usia mas yang udah hampir menginjak 32 tahun tidak menjadi masalah dalam berprestasi setinggi-tingginya. Buktikan kepada seluruh dunia kalo sebenarnya orang yang paling pantas memakai kostum nomor 10 itu mas, bukan Francesco Totti.
Masalah Juventus yang dituduh melakukan kecurangan selama ini, aku hanya bisa berdoa semoga Juventus selamat dari segala tuduhan dan sanksi yang akan dijatuhkan. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa membuka mata Hakim yang terhormat agar melihat kenyataan bahwa sebenarnya bukan juventus yang melakukan kecurangan, tapi justru tim memiliki backingan mantan orang penting di pemerintahan Italia. Siapa lagi kalo bukan ** *****.
Mas Del Piero, jangan menyia-nyiakan kesempatan emas di Final Piala Dunia melawan Prancis ini. Jangan sampai kejadian tahun 2000 di Final Euro 2000 dimana Itali dikalahkan Prancis terulang lagi di Berlin. Ketika itu, penampilan yang kurang baik dari Mas akhirnya dijadikan penyebab kekalahan Italia dari Prancis. Buktikan kalo mas adalah pahlawan Gli Azzuri, pahlawan Itali, pahlawan Dunia, Pahlawanku juga….
Balaskan dendam terhadap Prancis, yang mengalahkan Italia tahun 2000. Walaupun sebenarnya pertemuan antara Italia melawan Prancis adalah partai reunimu dengan teman-teman lamamu di Juventus. Kamu bersama dengan Buffon, Cannavaro, Zambrotta, Peruzzi dan Camoranesi akan bertemu dengan kawanmu juga yaitu Zidane, Trezeguet, Thuram, Henry, dan Vieira. Tetapi, hal itu jangan mempengaruhi penampilanmu ya Mas….profesional tetap profesional….menang lawan teman akan sangat berarti lho….
Ya udah deh mas, suratnya segini dulu. Salam buat Mbak Sonia Amoruso yang cantik di rumah, bilang ada seorang fans yang mau bertamu ke rumah, hehe…..Oiya…kapan nih mau menghadirkan Del Piero jr. di rumah. Biar tambah seru kan, siapa tau nantinya bisa jadi penerus bapaknya buat jadi pesepakbola terhebat di jagad raya…..Amin. Salam juga buat semua anggota timnas Italia yang akan berjuang di final di Berlin nanti. Tetap semangat walaupun banyak orang yang menghina. Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Cukup buktikan dengan tropi piala dunia di tanganmu. Sukses selalu.
Forza Alessandro Del Piero, Forza Lippi, Forza Gli Azzuri, iL Pinturicchio Never Die…..!!!!
Salam kagumku selalu,
Tifosi Gli Azzuri dan La Vecchia Signora
Kemayoran City, Indonesia


